Amazing, Jakarta – Bromo, Sempu Island, Senggigi, Malimbu Beach, Gili Trawangan Island, Pantai Tanjung Aan, Pantai Kuta, Pantai Seger dan Desa Suku Sasak, Lombok.

Travelling kali ini benar-benar ‘Luar Biasa’.
Dimulai perjalanan dari Jakarta menuju Malang. Berangkat dari Jakarta dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air menuju kota Malang, Jawa Timur, dengan menikmati fasilitas promo buy 1 get 1 hasil ‘kolaborasi’ dengan BNI credit card hanya dengan harga 600 ribeng dapat 2 tiket. Murah kan?Jatuhnya yaa 300 ribu doang per orang. Perjalanan gak berhenti hanya sampai kota Malang saja, perjalanan berlanjut ke Pulau Sempu, Pantai Malimbu – Senggigi, Pulau Gili Trawangan, Pantai Tanjung Aan, Pantai Seger dan Pantai Kuta serta diakhiri di Desa Suku Sasak Lombok, Nusa Tenggara Barat…

Lebih kurang, begini ya cerita-nya…*redupin lampu*

Day 1 – Bromo

12 siang
Berangkat jam 12 siang dari Jakarta menuju Bandara Abdul Rachman Saleh – Malang bersama Mr. SM.

1 siang
Sesampainya di Malang, saya merasa jadi tamu istimewa karena langsung dijemput oleh ownernya Dewikitchen.blogspot.com (dipanggil Mba Dewi) yang juga merupakan istri dari Mr. SM. Saya langsung diajak makan siang di Rumah Makan Yogyakarta. Ini masih di Malang ya Bro, emang nama Rumah Makan-nya –> Yogyakarta. Weeenak banget lho, saya ngehabisin 3 piring tanpa malu-malu, hahahaaaa…. Lauknya segambreng bro, diantaranya; ikan bakar, ayam kremes, udang mayonaise, ceker ayam kecap, sambel mangga, dan lain-lain. Yang paling istimewa adalah Pete Goreng (my fav ones) :).

2 siang
Setelah kuenyaaang nghabisin hampir 1 bakul, perjalanan lanjut ke Perumahan Permata Jingga tempat diproduksinya makanan khas hasil ciptaan  http://dewikitchen.blogspot.com/

4 sore
Setelah cukup istirahat dan ngupi2, perjalanan dilanjutkan ‘raun-raun’ (baca: jalan keliling kota) untuk melihat keindahan kota Malang. Mr SM mengajak saya ke daerah tugu, pasar kidul, UnBRAW…😳… , trus ke bekas Stadion Arema Malang dan ke MTs ternama disana sekalian menjemput Mas Giga anak sulung dari Mr. SM.

6 petang
Back to Permata Jingga. Saya sudah janjian dengan ponakan ‘Dicky’ untuk menjemput saya disana. Setelah menunggu gak terlalu lama, ponakan datang dengan menggunakan Toyota Rush (yang selanjutnya Mobil bewarna hitam ini sangat berjasa membawa kami kesana kemari). Dicky datang ditemani Si Ganteng Kalem – Ma’ul, nama kerennya dari Maulana, dipanggilnya Bang Ma’ul, juga ditemani Si Politikus Diza yang bersuara merdu (buruuung kali…?) yang juga seorang bekas penyiar radio Gen FM Surabaya sekarang menjadi kolumnis di Jawa Post. Ketiga anak-anak manis tersebut tersebut sedang menimba ilmu pengetahuan di Universitas Brawijaya (Dicky dan Ma’ul di Fakultas Kedokteran dan Diza di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Hubungan Internasional)

7 malam
Kami berangkat dr Permata Jingga menuju kost-an Dicky berniat untuk istirahat dan menonton sepakbola Indonesia vs Malaysia (penyisihan Group B, Sea Games 2011)… Sayangnya Indonesia kalah euy…alhasil gak bisa istirahat deh…

10.30 malam
Masih di kost-an Dicky.
Persiapan berangkat ke Bromo.
Sebelum perjalanan menuju bromo, kami mampir ke rumah Mr. SM menjemput Mas Totok, sang driver spesialis buat perjalanan kami selama di Malang-Bromo-Sempu.

11 malam
Sampai di Permata Jingga, Mas Totok sudah menunggu selama 30 menit, maaf ya Mas, telat, hehe.
Selanjutnya kami Berangkat dari Permata Jingga menuju Bromo. Sempat mampir di Indomaret beli perlengkapan buat kebutuhan perut dan pelega dahaga, setelah itu perjalanan langsung menuju Bromo. Selama diperjalanan bola mata gak bisa diajak kompromi alias ‘tunduh’ (bahasa sunda: ngantuk), tapi yaahh akhirnya’tidur-tidur ayam’ gitu deh. Namanya juga tidur di mobil, bangun tidur, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, banguuuuuunnnn, tidur lagi… Hehe… *mbah surip mode hidup lagi*

Day 2 Bromo – Sindang Biru (Pulau Sempu)

3 dini hari
Akhirnya sampai juga di stop area Bromo. Untuk kita ketahui mobil pribadi harus berhenti di area ini. Perjalanan hanya bisa dilanjutkan dengan menggunakan Ojek atau Jeep sewaan.

“Bbrrrr…Dwiiingiiinnnnn banget!”
Begitu turun dari mobil, kami langsung diserbu oleh pedangang yang menawarkan sarung tangan dan kupluk. Kata mereka,”diatas dingin sekali, Pak.” Waah… Saya dipanggil Bapak. Emang sepantesnya sih, hahaa.
Luar biasa, “Jualan jam 3 pagi?” Yah, begitulah prens, nyari duit emang susah yaa. Untuk keperluan ini untunglah sebelum berangkat dari Jakarta, di rumah istri tercinta sudah mempersiapan buat suami tercinta berupa sarung tangan, jacket/sweater, syal dan kacamata hitam (untuk mencegah mata dari penyakit katarak karena cahaya matahari yang terik dan untuk melindungi mata dari tiupan pasir di daerah Bromo). Gak lupa istri-ku juga sudah mempersiapkan kupluk yang bisa nutupin kepala sampai kuping.
Wah, untung banget deh persiapan penghangat badan mulai dari kepala sampai kaki sudah melekat di badan.

Lanjuuutt…
Setelah itu, datanglah Sang Calo penyewaan Jeep.
Eng ing eng…..Tawar menawar harga Jeep-pun dimulai, tarik ulur harga, hahaahaaa.
Penawaran dibuka oleh calo-nya untuk tujuan empat (4) tempat harganya 750 ribu, antara lain; ke pananjakan #2; savana/teletubies; pasir berbisik; dan kawah bromo. Akhirnya kami dapat juga harga 450 ribu setelah tarik ulur yang cukup alot, gak tau deh, harga segitu , mahal atau sudah dibawah standard yaa? Hahahaaa. Yang penting kan semuanya dapat, udah jauh-jauh ke Bromo masa’ gak dapat semua, yaa kan? Kalau pake ojek untuk empat tempat tersebut cuma bayar 100ribu per orang. Cuma ngeri juga ah naik motor, teringat simoncelli, hiiii syerem.
Setelah ‘deal’ dengan calo-nya dan dikonfirmasikan tidak akan ada lagi biaya tambahan nantinya, naiklah kami (Ombe, Dicky, Maul dan Diza) semua ke Jeep, sementara Mas Totok sang driver nyantai di warung lalu tidur di mobil.
Tujuan pertama kami adalah Pananjakan #2. Ada apa sih di panjakan #2? Jawabannya adalah: “Sesuatu yang Sangat Luar Biasa”….baca terus yaa…

Perjalanan naik jeep sekitar 15 menit di saat sebelum fajar yang gelap gulita. Tidak ada lampu penerangan jalan sedikitpun, kecuali cahaya dari lampu mobil jeep yang kami tumpangi. Jalan berbatu dan berlubang dilalui Jeep dengan system 4×4 (4WD) tanpa halangan yang cukup berarti. Ternyata, Jeep yang nganterin gak diperbolehkan membawa kami sampai penanjakan #2, lagi-lagi hanya sampai stop area. Perjalanan menuju penanjakan #2 dilanjutkan dengan jalan kaki. Ada juga sih beberapa penawaran dari joki penyewaan kuda dengan harga sekitar 30 ribu. Namun kami tetap berjalan kaki mendaki menuju pananjakan #2. Banyak juga rombongan lain yang menuju kesana. Luar Biasa, benar-benar gelap gulita. Perjalanan mendaki sekitar 108,000 detik alias setengah jam, bisa diisi dengan dzikir sambil nambah-nambah pahala 😊, namun benar2 melelahkan…aahhh…😂.

Beberapa rombongan lain juga pada ngos-ngosan, ada yang muntah, sesak napas dan ada yang duduk terkulai lemas. Rombongan lain ternyata sudah mempersiapkan senter untuk penerangan dijalan. Wah, saya juga gak kehilangan akal, iPhone 4 setia ternyata juga bisa buat penerangan dengan aplikasi Flaslight-nya.
Akhirnya sampai juga di pananjakan #2, sekali lagi, benar2 melelahkan. Saran: Memang seharusnya sebelum kita melakukan perjalanan ke Bromo, fisik harus benar-benar dalam keadaan fit dan siap. Mungkin dengan cara lari setiap pagi atau treadmill, dilakukan rutin setiap hari selama 2-4 minggu sebelum berangkat melakukan ‘trekking’ ke Bromo. Harus rutin lho… Hihiiii…Biar kaki dan paru-paru bisa berfungsi semestinya di area bromo ini…hehe..

Lanjut,
Sesampainya di penanjakan #2, wah…Alhamdulillah…nyampe juga…padahal sudah beberapa kali berhenti selama dijalan untuk istirahat dan tarik napas…badan rasanya benar-benar lelah, cuapek, napas terengah-engah. Saya males banget mau ngeluarin DSLR Canon 5D Mark II + 17-40 f4 L USM dari kediamannya yaitu ransel kamera LowePro Computrekker AW, karena sangat cuuaappekk-nya…
Setelah istirahat yang belum cukup, namun fajar sudah mulai menyingsing sekitar jam 4.30 sebelum subuh, akhirnya saya mau gak mau harus mau. Apa sih?! Saya harus membangunkan 5D Mark II dari tidurnya.” Dingin banget yaa?! ” Begitu kira-kira curcol-nya kalau dia bisa ngomong.

Mulai deh, sesuatu yang Sangat Luar Biasa terjadi….
Detik demi detik berjalan seiring perjalanan mentari menyinari alam, Yang Maha Kuasa seolah-olah memulai membuat sebuah lukisan…. SubhanAllah, Allahu Akbar, benar-benar luar biasa, braders… Lukisan Allah SWT, pohon mulai dilukis dengan cahaya mentari, setelah itu bukit-bukit, gunung batok, bromo, awan, bahkan gunung semeru dan segalanya mulai dilukis sedikit demi sedikit lama-lama menjadi gunung. Ya, itulah jawaban dari pertanyaan diatas, Lukisan Allah, itulah yang ada di pananjakan #2.

Dengan adanya cahaya dari Allah, saya pun mulai proses ‘melukis dengan cahaya’, kalau istilah londo-nya yaitu photography. Kamera mulai bekerja diatas tripod merek Sirui. Tripod tentunya sangat dibutuhkan untuk pemotretan Slow Speed dan Low Light agar gambar yang dihasilkan tidak blur atau shake. Jeprat-jepret begitu bunyi mirror-nya. Setelah beberapa shoot ternyata hasilnya di LCD sangat jauh dari memuaskan. Kenapa? Jawabannya: karena tukang foto-nya Kecapean dan Tidak Konsentrasi/Fokus. Saya diam sejenak, tarik napas yang dalam pelan-pelan dari hidung lalu dibuang lewat mulut. Setelah diulang beberapa kali, konsentrasi yang tadinya bler abis di sekitar 30%, mulai kembali fokus di level 70% hehee.

Trus, bagaimana hasil foto pada konsentrasi di 70% ? Yaahh… Masih lumayan ancur…. Hahaa…
Lho…? Emang kenapa lagi? Menurut saya sih karena masih belum kenal lokasinya. ‘Angle’ mana yang unik dan terbaik, trus menentukan timing yang pas, serta bagaimana ‘stelan’  kamera yang pas untuk akhirnya otak ini memutuskan dan memberi perintah kepada jari telunjuk agar menekan shutter saat itu juga…pakai telunjuk lho yaa…kebayang kan kalo pake jempol, biarpun lebih gede tapi susah…*lagi pengen garing*

Ternyata begini lho braders, apa yang dibilang oleh guru-guru photography kita dimanapun mereka sekarang berada, “apabila fisik anda capek banget, anda jadi gak bisa fokus dan konsentasi untuk ngambil gambar alias photo”. Ini kata guru atau kata saya pribadi yaa..? Haha…Ini diluar pembahasan teknik-teknik photography lho yaa… 😃
Setelah puas photo-photo di pananjakan #2 dan sempat gonta ganti lensa ke 70-200 f2.8 L IS USM (sebenarnya belum puas sih, cuma soalnya semua orang dah pada turun ke stop area jeep…😰), kami kembali le Jeep yang dengan setia menunggu di bawah. Dalam perjalanan kebawah, Do you know what? Ternyata banyak sekali ‘ranjau’ alias mohon maaf, kotoran kuda berceceran sepanjang perjalanan kami naik ke pananjakan #2 tadi. Jadi karena perjalanan mendaki sebelumnya dalam keadaan gelap, maka kemungkinan besar kami menginjak beberapa dari ‘ranjau-ranjau’ tersebut. Meledak? Ya enggak. Cuma ekspresi kaget kami yang meledak, ketika pas kita jalan turun kebawah.
Sampai dibawah tempat parkir jeep, kami hampir salah naik jeep karena warnanya mirip. Padalah Dicky, Maul dan Diza udah sempat saya photo2-in di depan jeep sewaan orang lain tersebut …heheheheheee…peace bro…

Sampai di jeep yang ‘benar’, kami naik dan langsung turun lagi ke bawah ketempat pertama kali kami naik jeep. Kita lalu mencari masjid terdekat buat sholat subuh. Ada sih dibawah, cuma semua pintu masjid kok dikunci yaa..? Padahal kami sampai di bawah sudah jam 6 pagi lho (apa emang karena udah telat yaa..?). Udah gitu di tempat wudhu-nya juga gak ada air sama sekali. Sempat kami berpikir untuk ber’tayamum’. Akhirnya kami menggunakan Air Aqua yang dibeli di Indomaret buat kami wudhu, secukupnya lah.
Akhirnya kami sholat di area bagian luar masjid yang sedikit kotor.
Berikut dalam tanda kurung boleh dibaca boleh juga enggak.
(hhmmmm, apakah ni masjid gak ada yang ngurus yaa? Kan sayang banget, betul gak?)
Lanjuuuuutttt, braders…
Tujuan pertama setelah sampai bawah adalah Savana/Bukit Teletubies merupakan tempat tujuan terjauh dari empat tujuan ‘deal’ kami tadi. Bagus, bagus. Dicky lupa bawa kostum ‘Po’-nya untuk shooting film teletubies, Hehee, peace yaa ponakan.


Setelah jeprat jepret, perjalanan lanjut ke Pasir Berbisik, keren banget braders, kayak judul sebuah film yaa? Katanya sih judul film layar lebar Pasir Berbisik alias Whispering Sands yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Christine Hakim itu diambil dari nama tempat didaerah Bromo ini.


Trus, kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Bromo. Jeep hanya bisa berhenti ditempat parkir dengan radius beberapa ratus meter dari Kawah Bromo. Didalam radius tersebut terdapat sebuah Pura tempat upacara adat Suku Tengger. Jadi kalau kita mau ke kawah, pasti ngelewatin pura, kecuali kalo kita gak lewat jalan yang lazim, heheeee.
Sebelum sampai ditempat parkir, Jeep kami sudah diikuti oleh beberapa joki berserta kudanya. Setelah parkir, kami mulai turun dari Jeep, dan kami langsung ditawarin jasa oleh Joki untuk menunggangi se-ekor binatang yang namanya Kuda tersebut. Ya, kuda lagi kuda lagi. Kali ini penawaran lebih mahal. Tarif dari tempat parkir mobil sampai ke area anak tangga di buka penawaran sebesar 100 ribu rupiah per orang per kuda untuk perjalanan PP alias pergi pulang. Wow mahal juga yaa. Akhirnya kami jalan kaki dari tempat parkir Jeep ke kawah bromo. Awalnya sih perjalanan diatas tanah dengan tingkat kemiringan yang masih datar, gak ada tanjakan sama sekali, cuma debu cukup banyak. Jadi kita sebaiknya menggunakan kacamata dan masker. Untunglah saya bawa kacamata hitam yang harganya goban, saya beli di daerah pinggir jalan ditebet sebelum keberangkatan, kacamata murmer dengan alasan takut kacamatanya hilang, rusak atau patah selama perjalanan yang sangat menantang ini…ternyata benar, dihari ketiga, tuh kacamata menemui ajalnya alias patah… Hahahaaaa.

Lanjuuuttt…
Syal, saya ubah fungsi menjadi masker untuk menyaring udara  bercampur debu yang masuk kehidung.
Selama perjalanan dengan menggunakan kaki menuju kawah, kami selalu diikuti oleh mas-mas joki penyewaan kuda tersebut. Mereka selalu menawarkan harga mulai dari 100 ribu, turun ke 90 turun ke 80 turun ke 75 seiring dengan semakin dekatnya kami ke daerah kawah.
Dari awal saya keukeuh di harga 30 ribu per kuda per orang untuk PP.
Akhirnya harga tersebut dapat juga kami nikmati disaat setengah perjalanan, dimana kami memang mulai harus menanjak menuju anak tangga pertama di kawah bromo. Sssttt… Mohon jangan bilang siapa-siapa yaa…”Inilah saat pertama kali saya nunggang kuda…!” Gubraaaakkkkk…. Dah umur segini baru sekali naik kuda….”kemana aja Oom..???” Buaahahahhaahahaaaaa.

Setelah naik di pelana kuda, ternyata rasanya begini yaa…hhmm.. Gimanaaaa gitu…hehe
Saya sih kasian kudanya (karena ukuran badan kudanya yang tidak terlalu besar), dengan berat badan saya yang diatas rata2 orang indonesia, hampir sama gede…kwkwkwk.. Haha… Ya gak juga lah… Pengen lebay aja…
Setelah jalan menanjak kami sampai didaerah dimana kami harus turun dari kuda dan melanjutkan pendakian melalui anak tangga. Katanya sih jumlah anak tangga tersebut lebih dari 200 anak tangga. Saya sih boro-boro menghitung, kayaknya sih lebih dari seribu anak tangga deh…haha.. Soalnya selama perjalanan melalui anak-anak tangga tersebut saya berhenti untuk istirahat dan menarik napas lebih dari 10 kali. Hahahaa, payah yaa..?! Entar cobain sendiri yaaa, bro…hehe..

Alhamdulillah…akhirnya sampai juga di Kawah Bromo, saya langsung duduk terdiam, hhmmm…haaaaaahhhh…
Kecapean.
Gak mood buat foto…akhirnya cuma beberapa kali jepret, saya foto juga tuh kawah dan sekelilingnya.
Setelah cukup ‘ngambil foto’ kami langsung turun kebawah lagi melalui anak-anak tangga yang nyebelin tadi. Selama perjalan turun, kami membayangkan cable car, helicopter, flying fox dan transportasi sejenis lainnya yang bisa membuat perjalanan jadi lebih nyaman. *dasar orang kota* . Namun siapa tau bisa menjadi masukan yang bagus, entahlah…. Akhirnya nyampe juga kami di parkiran kuda. Kali ini perjalanan menurun, kami berempat turun dengan kuda sewaan masing-masing. “Ternyata enak juga ya naik kuda ?”

Sesampainya di tempat pemberhentian terakhir kuda, eh kuda yang ditunggangi oleh Dicky langsung pipis, karena keberatan kali yaa ? Hingga kandung kemihnya si kuda tergencet habis-habisan. Hahaa…. Secara badan Dicky dan saya gak beda jauh, ’11-12′ lah. Hahahaha…
Setelah itu kami naik jeep lagi, dan inilah akhir perjalanan di Bromo. Jeep mengantarkan kami ke tempat pemberhetian mobil pribadi. Mas Totok dengan setia sudah menunggu kami disana.

Jam menunjukkan pukul 10 pagi.
Perjalanan kami lanjutkan ke Malang untuk mempersiapkan ‘bekal’ kebutuhan di Pulau Sempu. Diantaranya; Tenda, kompor gas portable, susu kental manis, roti, telor, ‘autan’, aqua, dll. Yup betul, perlengkapan buat camping gitu deh.

Selama perjalanan ke Malang, kami semua tertidur kecuali Mas Totok, secara yang nyetir gitu loh, maklum malam sebelumnya kan pada susah tidur. Sesaat saya terbangun, padahal baru tidur sekitar 10 menit. “Lapeeeeerrrr…. ” teriak saya dalam mobil. Setelah dapat saran dari Mr. SM via sms dan saran yang sama dari Mas Totok, akhirnya kami berhenti untuk makan siang di RM Rawon Nguling di daerah jalan raya arah Probolinggo – Malang. Kami pesan Rawon semua…wooww… Dahsyaaat ya rasanya…dagingnya empuk banget, dan kuah-nya pun sedappp…harganya berkisar 14 ribuan per-porsi. Saya, seperti biasa, menghabiskan satu setengah porsi hahahhaa…*dasar*

Setelah makan siang, perjalanan kami lanjut ke Malang. Kami janjian bertemu dengan 2 orang ‘guide’ yang akan menjadi leader perjalanan kami ke Pulau Sempu.
Mereka adalah Agung dan Fadli (dipanggil Cipaik)… Anak UnBraw juga, aktivis Impala, jadi mereka tau persis medan di pulau sempu, walaupun juga baru sekali saja ke sana…hehe…

Karena banyaknya ‘printilan’ ini itu, akhirnya jadwal kami ‘molor’ dari planning semula untuk berangkat ke pulau Sempu.

15 teng,
Akhirnya kami brkt juga. Formasi di dalam mobil masih sama, cuma ada tambahan satu sepeda motor yang  membawa Agung dan Cipaik kesana.

Oiiyaa… Untuk kita ketahui, bahwa dari malang ke pulau sempu, kita harus behenti di pelabuhan Sindang Biru, sebelah selatan dari kota Malang. Jaraknya sih sekitar 78 kilo meter dari kota Malang, cuma butuh waktu sekitar 2-3 jam. Nah, dari pelabuhan ini kita lalu menyeberang menggunakan boat ke pulau Sempu.

Selama dalam perjalanan dari Malang ke Sindang Biru, kami lagi-lagi tidur… Hahaa.. Tidur melulu yaa..?? Hahaha…
Sekitar satu jam sebelum sampai Sindang Biru baru kami terbangun. Diza dan Dicky bernyanyi mengikuti lagu yang di ‘setel’ via USB ke tape mobil. Bagus juga suara mereka, bahkan Diza pengen bikin vocal group bareng Dicky. Pengen populer kayak boyband Smash kali yaa…? Sementara saya  dan Ma’ul hanya bernyanyi dalam hati…haha…

6 Petang
Akhirnya sampai juga di Sindang Biru…Kami bertemu dengan Agung dan Cipaik disana yang sudah sampai duluan. Sebelum melakukan penteberangan ke Pulau Sempu, kita harus lapor terlebih dahulu ke Pos Perhutani disana, karena kawasan ini masih dalam perlindungan Perhutani.

Setelah lapor ke Pos Perhutani, kami sangat disarankan untuk tidak menyeberang ke pulau Sempu sore ini juga. Dikhawatirkan akan keselamatan kami karena hari sudah mulai gelap. Dan kami disarankan untuk mendirikan tenda di pinggir pantai sindang biru saja, untuk keesokan paginya baru diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke pulau Sempu. Akhirnya saya putuskan untuk keselamatan bersama, kami akhirnya mendirikan dua (2) tenda di pinggir pantai Sindang Biru. Agung dan cipaik terlihat sangat cekatan mendirikan tenda, secara ‘anak impala’ gitu loh…
Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, tenda sudah berdiri kokoh. ‘Baygon’ pun langsung disemprotkan Dicky kedalam tenda. Setelah itu pintu tenda ditutup rapat *biar nyamuk yang dari tadi ada didalam tenda langsung ‘ko-it’.
Pada malam hari, acara diisi dengan main kartu, jenis permainannya antara lain adalah ’41’, cangkul, black jack ver. 4.2 lalu di upgrade ke ver. 1.3 lah ini upgrade apa downgrade?? Yaaahh gitu deh, aturannya aneh2…saya sih gak ngerti yaa… Hehee…
Sementara yang lain pada main kartu, agung sibuk bikin Roti Bakar Saos Barbekyu Isi Telor… Hhmmm… Sangat lezat lhooo…
Permainan berlanjut gak tau sampai jam berapa, sementara saya sudah tidur…hehe..

Day 3 Pulau Sempu

4.30 subuh
Jam segini ternyata di Sindang Biru sudah cukup terang lho, rotasi bumi terhadap matahari sudah bisa dibilang Sunrise… Langsung deh, saya ambil tripod dan kamera buat mengabadikan moment ini…abis itu baru sholat subuh…(waduh..waduh…kebalik yaa..?? Gak lagi deh..)


Sementara semua ponakan terlihat sedang beresin tenda dan perlengkapannya…
Seperti biasa, Agung sudah menyiapkan sarapan berupa; roti, kopi, dan susu coklat. Hhhmmm wenak banget… Kayaknya Agung punya bakat jadi seorang Chef juga deh. Sebelum akhirnya kami sarapan lagi nasi pecel+telor di salah satu warung di Sindang Biru.

Setelah semuanya ‘siap’, dengan membayar perizinan sejumlah 20 ribu dan membayar penyewaan kapal untuk PP sejumlah 100ribu, jam

7 teng

kami menyeberang menggunakan boat kecil ke pulau Sempu. Cuma butuh waktu 10 menit untuk sampai ke pulau Sempu dari Sindang Biru.

Pada saat turun dari boat, saya harus lepas sepatu sendal Hush Puppies menuju daratan, karena tidak adanya semacam dermaga tempat kita bisa langsung menapakkan kaki ke daratan tanpa harus terkena air. Nah, untuk hal ini memang sebaiknya kita pake sendal gunung aja.

7.10 pagi
Nahhh….. Inilah saatnya pengujian body endurance hari ke 3 dimulai.

Setelah menginjakkan kaki di daratan pulau sempu, kami langsung masuk hutan menuju Danau Segara Anakan. Terdapat empat tempat yang menjadi tujuan kami hari ini, yaitu: Danau Segara Anakan, Pantai Kembar 1, Pantai kembar 2 dan Pantai Pasir Panjang.

Tujuan pertama dimulai. Perjalanan masuk melalui hutan yang ganas dengan ‘trek’ naik turun yang sangat menantang, ditambah lagi lumpur disana-sini karena pada bulan-bulan ini adalah satnya musim hujan. Huufhh… Selama diperjalanan gak sekali dua kali kaki masuk lumpur… Hahaa… Nikmati aja… Perjalanan ditempuh selama 1 jam 20 menit. “Katanya sih ini termasuk cepat dari biasanya…. Masa sih??” Untuk jarak tempuh pastinya saya gak tau berapa kilometer. Setelah beberapa kali istirahat di dalam hutan akhirnya kami sampai juga ke tempat tujuan pertama…yaitu Danau Segara Anakan. Luar biaaasaaaaa….

Jadi, danau Segara Anakan ini seperti sebuah danau kecil yang dikelilingi tebing karang didepannya, air danau ini bersumber dari: pertama; air laut lepas pantai selatan pulau Jawa yang masuk kedaratan dari salah satu lobang karang yang ada di sekeliling danau. Kedua; air juga masuk dari jalan bawah karang dari salah satu karang yang saya gak tau tempatnya dimana…hehe….
Kami beristirahat disini selama 1 jam dan mandi di air yang jernih.

Ponakan saya sempat dikejar uler… Nah lho…?! Makanya disini kita harus benar2 hati-hati… Hhihihii….sereemmm…
Cuma memang sayang, tempat secantik ini masih dikotori oleh para pengunjung dengan meninggalkan sampah dari barang-barang bawaan mereka. Sempat saya ngobrol dengan petugas dari perhutani yang kebetulan juga sedang berada disana. Beliau menyarankan untuk semua sampah yang berasal dari barang bawaan kita, sebaiknya dibawa kembali keluar pulau, agar pulau ini tetap bersih.

Setelah itu perjalananan lanjut ke Pantai kembar 1, lagi-lagi untuk sampai ke pantai ini kita harus melalui tanjakan yang sangat hebat, miring banget tanjakannya, sekitar 45 derajat kemiringannya.
Jalan turunnya juga begitu, sangat curam. Dengan ngos-ngosan, selama 15 menit sampai juga di Pantai kembar 1.

Setelah cukup foto-foto, kami lanjut ke Pantai Kembar 2, nah kali ini jalan menanjak tidak terlalu banyak, jalan turunannya pun lumayan ‘enak’, sekitar 15 menit sudah sampai. Foto2 lagi, dan lanjut ke Pantai Pasir Panjang, nah ini dia yang paling luar biasa jalannya, sempat kemiringan jalan sampai 50 derajat untuk tanjakan, dan jalan turunnya sampai 90 derajat pas hampir sampai di pantainya. Untung ada tangga seadanya yang tersedia disana.
“Luaaarrrr biaaassaaaa….Another Paradise On Earth…” Begitulah sekali lagi setelah sekian kali kata-kata tersebut keluar dari mulut saya ketika sampai di Pantai Pasir Panjang. Kalau kita pernah menonton film yang berjudul The Beach yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio, pantai yang ada di Pulau ini gak kalah dengan yang ada di The Beach.


Sesampainya di pantai Pasir Panjang, mentari sangat terik dan pas berada sejajar diatas ubun-ubun kepala.
Sekitar jam 12 siang, kami berteduh dibawah pohon, Agung dan Cipaik mulai mempersiapkan perlengkapan memasak untuk kami makan siang. Dicky, Diza dan Maul mulai berenang dipinggir pantai nan elok. Ombaknya cukup besar. Jadi harus berhati-hati untuk berenang atau berendam atau sekedar bermain air, cukup di pinggir pantainya saja.
Sementara itu saya kembali tertidur dibawah pohon yang rindang dengan angin sepoy-sepoy, “faktor U kali yaa..??” Hahaha…tapi nikmat sekali.
Setelah satu jam tertidur, makanan ternyata sudah tersaji. Wow… Nasi+indomie goreng+abon cabe terasa nikmat sekali…
Setelah perut kenyang, gak lupa ngebul alias nguduts aka merokok Marlboro merah. Setelah itu barulah saya mulai hunting photo sementara yang lain mulai tidur…. Hahaha.. “Faktor U juga?” Haha… Wajar lah, paling enak tidur abis makan, hehe.

2 siang,
Setelah hunting photo dan istirahat, perjalanan lanjut kembali ke Sindang Biru. Kali ini perjalanan lumpsum mulai dari Pantai Pasir Panjang ke tempat pemberhentian kapal kami tadi. Jarak tempuh sekitar dua jam lebih, karena harus beberapa kali istirahat.
Akhirnya sampai juga di pinggir pantai tempat kapal nge-drop kami tadi pagi. Awan sudah mulai tebal, seperti mau turun duit eh hujan, kapal belum datang juga, padahal saya sudah telepon Mas Niko sang nahkoda kapalnya untuk segera menjemput. Akhirnya kapal datang juga, setelah semua penumpang naik ke kapal, gerimis mulai turun. Sepuluh menit selama dikapal kami ditemani gerimis. Sampai di Sindang Biru, kami langsung menuju musholla kecil yang ada disana. Pas saat kami sampai di Musholla tersebut, barulah hujan cukup deras mulai turun…Alhamdulillah… Hujan baru turun sekarang, gak kebayang kan kalau hujan turun pas selama dalam perjalanan kami di hutan tadi?! Setelah semua mandi dan sholat, sebagian pasukan pada ngebakso dulu, dingin-dingin begini wenak banget kali yaa…??
Setelah ngebakso, perjalanan kembali lanjut ke Malang.
Sesampainya di Malang, kami langsung menuju rumah makan bakso bakar…”Ya, bakso lagi, Malang kan terkenal dengan baksonya.”
Hhmm…rasa bakso bakarnya kalau menurut saya sih terlalu manis yaa, dan pelayanannya juga kurang ramah walaupun semua pelayannya pake seragam (tanpa ada maksud apa-apa, tapi itu lah yang saya alami).

Lanjut,
Setelah ngebakso, kami menuju rumah Mr. SM, untuk menonton bola semifinal Seagames 2011, Indonesia Garuda Muda Vs Vietnam. Ketika kami sampai disana jam 9 malam, skor sementara 1-0 untuk kenangan Garuda Muda. Kami baru sempat menonton ketika pertandingan sudah memasuki menit ke 55 hehe…
Akhirnya Garuda Muda menyapu Vietnam dengan skor 2-0, sekaligus membuat pasukan lawan harus ‘ngepak koper’.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Saatnya untuk saya beristirahat dan para ponakan yang lucu-lucu harus pulang ke kost-annya untuk istirahat juga, karena keesokan harinya ponakan harus mengantar saya ke bandara Juanda Surabaya jam 7.30 pagi.

Day 4 Malang – Senggigi, Malimbu Beach, Lombok.

5.30 pagi
Bangun tidur, terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, membersihkan tempat tidur, dan langsung disambut dengan teh moniz hangat serta kue-kue dan makanan khas dewikitchen.blogspot.com . Wowww…benar-benar luar biasa nikmatnya. Setelah itu Mr. SM & family juga sudah menyiapkan sarapan nasi pecel + chicken wings. Kami pun sarapan bersama…hhmmm
Nikmattttt….
Mau?

Setelah sarapan seperti biasa, zippo + marlboro kembali ‘ber-mutualisme’ untuk menyehatkan paru-paru saya… Hiaaakakakakakaaa…. Ancuuurrrr….

Beberapa menit setelah itu, dicky, maul, diza dan kali ini juga bersama ilham (anak kedokteran unbraw juga) datang menjemput saya.
Sebelum perjalanan ke bandara, ponakan2ku di ajak Mr. SM untuk menikmati kue-kue dan minuman seger jus apel malang yang tersedia di ruang tamu. Satu persatu kue mulai disikat. Biasalah anak kuliahan, untuk perbaikan gizi… Ahhhahahaa… Mumpung kue masih banyak, akhirnya tuan rumah ngebungkusin kue-kue tersebut buat bekal di jalan. Ponakan2pun terlihat riang gembira Hahhaa…

Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Mr. SM dan keluarga atas semuanya, saya melanjutkan perjalanan ke Bandara Juanda Surabaya untuk selanjutnya menuju Bandara International Lombok.

10 pagi
Sampai di bandara Juanda. Check in ke maskapai Lion Air. Ternyata penerbangan Malang – Lombok menggunakan pesawat Wings Air. Pesawat kecil dengan menggunakan system baling-baling. Wah kebayang kan, bro? Pesawat kecil tersebut kalo masuk awan…?! Yaa… Bergetar bo’…. Tapi ya sudah.. Bismillah aja…Jam 10.45 boarding, jam 11.15 take off. On schedulle sih…jarang2 yaa…?!

Sementara itu teman saya Ary sudah menunggu di Lombok. Ary adalah sahabat dari 10 tahun yang lalu sampai sekarang, yang kebetulan juga punya Hobby yang sama, yaitu Travelling dan Photography. Ary menggunakan pesawat Lion Air untuk penerbangan dari Jakarta ke Lombok pada hari yang sama. Jadi, Ary sempat menunggu saya di bandara sekitar 1 jam-an. Kasiaaannn yaa…?! Haha..

1.25 siang
Waktu Lombok (lebih cepat 1 jam)

Alhamdulillah, akhirnya landing juga di BIL setelah berada diatas pesawat yang cukup bergetar selama 1 jam-an. Setelah mengambil bagasi saya langsung keluar menuju halte bus Damri. Bus yang masih disubsidi oleh Pemda.
Ary sudah menunggu di depan halte Bus Damri dengan menggunakan kacamata hitam.  Wuii…kacamata yang gak pernah lepas kalau lagi jalan-jalan…hehe…*keren kok mas bro*

2.45 siang
Bus Damri berangkat menuju Senggigi meninggalkan BIL. Ongkosnya cuma 25 ribu sampai Senggigi. Murah yaa..?! Dari pada naik taxi, bisa habis 200 ribuan, brader.
Kami bagaikan mencarter satu (1) Bus Damri, lho?! Kok bisa…? Karena jumlah penumpang yang naik cuma 3 orang! Hahahhahaa….
Mau gak mau bus harus tetap ‘narik’, karena masih subsidi juga. Katanya sih keberadaan Bus Damri untuk transportasi publik sempat di demo juga oleh para penyedia jasa tour and travel. Namun karena persyaratan akan sarana suatu Bandara International harus tersedianya ‘Public Transport’. Akhirnya keberadaan Bus Damri bisa diterima juga.
Sang sopir bus yang mirip aktor Lukman Sardi (bener2 mirip lho, sumpah..!!) menurunkan kami persis didepan hotel Elen. Hotel tempat kami menginap malam pertama, terletak sekitar 20 meter dari Senggigi Square. Kami langsung check in ke Hotel Elen. Hotelnya bagus, lumayan bersih, walaupun masuk melewati gang, tapi pas kita sampai didalam ternyata gede juga area hotelnya. Harga kamar hotel berkisar dari 150-250 ribu. Kami ambil harga kamar 200 ribu, lumayan dah pake AC cuma ternyata gak ada TV….hiaahahahaa…gariiing abiies…
Setelah check-in dan taruh barang, perut yang dari tadi udah laper, terasa semakin laper. Kami menuju Restoran Yessy. Restoran sesuai saran dari ‘Lukman Sardi’ waktu kami masih di bus. Di restoran ini makanannya enak….

4 sore
Sampai di restoran Yessy.
Kami pesan satu porsi ayam bakar taliwang, satu porsi ayam goreng taliwang dan satu porsi plecing kangkung serta dua gelas jus.
Ternyata kalau kita pesen 1 porsi ayam taliwang, maka yang akan disajikan adalah 1 ekor ayam muda yang bisa bisa dibakar atau digoreng. Jadi ukurannya pun lebih kecil walaupun gal terlalu kecil. Alhasil, saya dan Ary masing-masing makan satu ekor ayam. Weeenaaaakkk bangeettttt… Sumpah..!! Kagak boong..!!

5 sore
Setelah makan, perjalanan lanjut ke Malimbu Beach. Perjalanan menuju Malimbu Beach sekitar 20 menit dari Senggigi. Kami menggunakan Bemo roda empat (kayak angkot sih, mobil carry pickup yang ditambah ‘rumah-rumah’ dibelakangnya). Drivernya kali ini bernama Mr. Jan, yang katanya lahir pada satu bulan setelah bulan December di tahun berikutnya. Ya…bulan January. “Wah, sama dong sama saya..!”. Mr. Jan cukup ‘funky’. Ketika kami tanya berapa harga sewa Bemo untuk perjalanan PP ke Malimbu Beach – Senggigi, Mr. Jan menjawab,”terserah, naik aja dulu lah, bayar nya gampaaang.” Wuii…?? Akhirnya untuk PP kami bayar 50ribu, sudah termasuk dengan waktu yang dihabiskan Mr. Jan untuk kami berhenti hunting photo. Setelah cukup lama hunting photo, kami balik ke hotel Elen, mandi dan persiapan jalan kaki ke Senggigi Square untuk melihat keramaian malam di Senggigi.

7 malam
Sampai hotel untuk mandi dan ishol.

8 malam
Jalan-jalan di Senggigi Square.
Ternyata disini sepi banget. Akhirnya kami berjalan kaki lagi menuju Happy Cafe yang terletak diseberang jalan arah timur dari hotel kami menginap. Disini ada live music. Hhmm…yang nge-band juga lumayan bagus, walaupun ketukan drum-nya gak sebagus saya…hahahhaaaaa…(harap maklum aja, gini-gini saya mantan drummer juga yang sering ‘ngamen’ di cafe-cafe dan hotel-hotel di Bandung doeloe-nja….hahhaahhahaaaaa…)
Akhirnya kami pun gak mampir, cuma beli beberapa soft drink saja di mini market di dekat cafe tersebut.
Setelah cukup minum dan istirahat di area mini market, kami balik ke hotel untuk istirahat persiapan keesokan harinya menuju Pulau Gili Trawangan.
Sampai di kamar hotel, suasananya “mono” banget. Bayangin, hotel kagak ada TV, walaupun AC nya cukup dingin. Untuk menemani malam, akhirnya lagu-lagu dengan format MP3 yang tersimpan didalam memori iPhone 4 saya harus ‘ngamen’ gratis menemani kami sampai pagi, hahaaa…

Day 5 Senggigi – Gili Trawangan

5.30 pagi
Bangun tidur, ku terus mandi, tidak lupa menggosok daki, pastinya juga gosok gigi, tapi gak pake ngebersihin tempat tidur…(kan, lagi di hotel…haha).

7 pagi
Sarapan pagi yang disajikan adalah pancake dan segelas teh moniz hangat.

8 pagi
Berangkat ke Pelabuhan Bangsal (public harbour) dengan menggunakan Bemo. Perjalanan ditempuh lebih kurang 45 menit. Bayar bemo sampai tujuan sebesar 70ribu. Sesuai dengan harga rata-rata yang saya baca dari googling-an…haha…

Sampai di tempat penurunan penumpang, bemo tidak bisa masuk sampai kedalam area pelabuhan. Untuk sampai area pelabuhan (kapal), alternatifnya bisa jalan kaki atau menggunakan cidomo (angkutan sejenis andong or bendi). Per orang bayar 10ribu saja kok.
Sampai di pelabuhan bangsal setelah membeli tiket penyeberangan ke Gili Trawangan seharga 10 ribu, kami naik kapal kecil berpenumpang sekitar 20 orang. Kapal bermesin sederhana ini hanya akan ‘berlayar’ apabila penumpangnya telah mencapai 20 orang. Didalam kapal cukup tersedia baju pelampung sebagai persyaratan safety untuk transportasi laut. Setelah 45 menit berada di atas kapal yang cukup terombang-ambing oleh riak air, kami sampai juga di Pulau Gili Trawangan.

“Wowww…benar-benar indaaahhh…
Pasir pantainya putih, air lautnya jernih, cuma udaranya sangat panas”,

10 pagi
Kami check in di hotel Blue Marlin.
Harga kamar hotel untuk type standar sekitar 550 ribu, cuma karena kami bawa ‘surat sakti’, maka harga kamar cukup kami bayar  seharga 350 ribu saja dan sudah termasuk sarapan. Assyiiiikkkkk kan…?
Kali ini fasilitas kamar wookeeh banget, ada fasilitas TV kabel, lemari es dan AC.

11 siang
Setelah tidak beberapa lama kami istirahat di hotel, kami lanjut makan siang di area sekitar hotel. Pesen kami kali ini ayam bakar plecing, mantabssss, bro.
Minumanya kami pesen satu ‘Aqua Besar’ ukuran 1,5 liter untuk berdua…Asyikkkkk….

12 terik
Setelah makan siang, kami naik cidomo keliling pulau Gili Trawangan sambil hunting photo, bayar cidomo untuk satu putaran keliling pulau sejumlah 125 ribu sudah termasuk beberapa kali berhenti untuk hunting photo. Selama dua jam gak berasa kami sudah mengelilingi Gili Trawangan yang memiliki landscape benar-benar indah. Mulai dengan melewati jalan ‘paving block’ sampai jalan berpasir sudah terlewati bersama cidomo. Setelah sampai kembali di area hotel, kami membeli beberapa soft drink, lalu kami balik hotel untuk ishol. Istirahat selama 1 jam, walaupun kamar hotelnya pake AC, namun suhu dikamar terasa gerah bangettttt. Karena memang suhu udara di pulau ini berdasarkan barometer yang ditunjukkan dari jam tangan Casio Protrek 500 saya menunjukkan angka 34,7 derajat celsius.
Akhirnya kami putuskan untuk keluar hotel lagi untuk selanjutnya ‘nyantai’ di pinggir pantai dibawah pohon sambil menikmati jus jeruk nipis dan menikmati keindahan pantai sebelah selatan pulau Gili Trawangan dengan pemandangan mengarah ke pulau Gili Menuk. Kami ‘nyantai’ sampai jam 5 sore.

Saya juga melihat momen beberapa meter dari bibir pantai, terlihat segerombolan ikan terbang lalu diikuti oleh burung-burung kelaparan yang selalu memburu.

5 sore
Kami sewa cidomo lagi lengkap dengan pak kusir dan kudanya, untuk mengantarkan ke area Sunset
Point. Kalau gak salah PP 100ribu…(maap lupa).


Setelah cukup foto-foto di Sunset Point, ternyata di area tersebut juga ada pertunjukan bola api. Beberapa orang pemain bola api memutar-mutarkan bola api yang terikat dengan tali di kedua tangannya sambil bergoyang sesuai dengan ‘beat’ lagu yang mengiringi. “Wah, gak takut kebakar yaa..??” Please try this at home kalau pengen kebakaran.” hehe…
Oiya, ngomong-ngomong kebakaran, di pulau ini tidak terdapat mobil kebakaran sih kayaknya. Jangankan mobil, motor saja gak boleh ada di pulau ini, karena untuk menjaga kebersihan pulau dari polusi udara. “Dan, ppssttttt…eh katanya polusi eh Polisi juga gak dibutuhkan di pulau ini, karena semua diatur oleh masyarakat di pulau Gili Trawangan”. Ooo..gitu yaa?!

7.30 malam
Setelah sampai didepan hotel Blue Marlin, kami mampir dulu di tempat penjual makanan pinggir jalan. Makanan yang dijual khas Gili Trawangan. Kami masing-masing pesan sate sapi khas gili dan lagi-lagi satu porsi plecing kangkung. “Hhmmmm…rasanya benar-benar  gak kalah dari yang ada di restoran”. Malah kami rasa ini malah lebih wenak. Hahaaahaaaa….

8 malam
Setelah mandi di hotel, kami sudah ‘duduk anteng’ menonton siaran sepakbola, final seagames 2011, Indonesia vs Malaysia.
Tadinya sih mau nonton bareng di salah satu cafe di sekitar hotel, namun karena kecapean dan males keluar kamar, akhirnya kami memanfaatkan fasilitas TV yang ada dikamar hotel. Awal babak pertama Indonesia Garuda Muda unggul terlebih dahulu 1-0. Setelah unggul ‘permainan’ Indonesia sangat berubah, sering sekali diserang oleh tim harimau malaya. Akhirnya benar, skor bisa disamakan 1-1 oleh malaysia. Babak ke dua baru di mulai saya ter…ZzzzZzzz…tidur sampai pagi. Saya baru mengetahui bahwa Indonesia kalah. Untung saya gak nonton, karena bisa-bisa malah susah tidur kalau harus menyaksikan kekalahan Indonesia.

Day 6 Gili Trawangan – Pantai Tanjung Aan, Pantai Seger dan Pantai Kuta, Lombok.

7.30 pagi
Kami breakfast roti bakar, salad buah dan teh moniz anget di hotel Elen.

8.30 pagi
Kami check out hotel dan menuju pelabuhan Gili Trawangan. Jam 9 pagi kami sampai di pelabuhan dan langsung membeli tiket kapal. Namun kami tidak bisa langsung naik kapal, karena sesuai dengan pengumuman dari loket melalui ‘toa’ ternyata harus menunggu 10 penumpang lagi….yaaaahhhh…. Padahal Pak Yusup sang driver dari lomboktravelnet.com sudah menunggu kami diseberang sana. Akhirnya jam 9.20 kami berangkat juga. Kali ini riak air sangat besar sehingga kapal terombang ambing. Ary sempat terkena cipratan duit eh air laut sehingga sebagian punggungnya basah. Saya sih ngeri yaa, cuma penumpang lain sih biasa aja, karena udah terbiasa kali yaa..??

10 pagi
Sampai di pelabuhan bangsal. Kami berjalan beberapa puluh meter saja dari turun kapal sampai ke jalanan yang beraspal. Pak Yusup sudah menunggu dengan mobil avanza hitamnya. Oiyaa…untuk hari terakhir ini, kami harus menyewa mobil, mengingat lima tempat yang harus kami  singgahi dan harus terkunjungi semua pada jam 4 sore. Tujuan kami pertama adalah RM Cakra Irama yang berada di daerah Cakra Utara Mataram. Perjalanan dari Pelabuhan Bangsal ke Mataram melalui Lombok Tengah. Perjalanan melalui sebagian  hutan dikiri dan kanan jalan. Banyak sekali monyet pada ‘nongkrong’ di pinggir jalan.

11 siang
Kami sampai di RM Cakra Irama. Katanya ini salah satu tempat favorit wisatawan mancanegara maupun lokal. Ternyata ayam bakar taliwang dan plecing kangkungnya benar-benar enak dan pedes sesuai permintaan. Hhsssh…nikmattt… Maju Perut, Pantang Mundur…
Itulah slogan gokil kalau sudah menyangkut kuliner. Untuk pelengkap makan, saya pesan kelapa muda batok+es+susu kental manis (minuman favorit mas bro niy), sluurrpppp…. Aahhh… *jadi pengen*

12 siang
Kami lanjut ke pantai Tanjung Aan, daerah selatan pulau lombok. Apabila kita melakukan perjalanan dari Mataram ke Tanjung Aan, maka kita akan melewati BIL, Desa Suku Sasak, pantai Kuta, dan pantai Seger. Jadi, agar perjalanan efektif dan efisien kami ‘tembak’ tempat terjauh terlebih dahulu yaitu pantai Tanjung Aan.

2 siang
Kami sampai di pantai Tanjung Aan, “Luaaarrr Biaaasaaaaa..”.

Pantainya indah banget, susah juga dilukiskan dengan kata-kata. Cuma terlihat seorang bule yang sedang berenang, pantainya sepi banget, enak sekali buat foto landscape dengan penambahan 1-2 orang dalam dalam frame sebagai model sekaligus membantu pengukuran skala landscape.

Sangat Unik…!! Di pantai ini, pasir pantainya bulet-bulet kecil seperti merica. Saran: karena saya baru kepikiran untuk membawa atau memasukkan pasir pantai tersebut kedalam botol Aqua atau sejenisnya untuk saya bawa pulang ke rumah sebagai hiasan aquarium atau sebagai alternatif pasir pot bunga transparan yang biasanya ditaruh di atas meja, atau buat keperluan yang lainnya, akan jadi unik yaa kaan..?? Maka mungkin kealpaan saya ini bisa buat masukan buat kita niy bro. “Cuma di bandara boleh gak yaa..? Bawa pasir begitu..? Tau deh…”
Masih di pantai Tanjung Aan.
Setelah puas jeprat jepret di Pantai Tanjung Aan, perjalanan lanjut ke pantai Seger, disini juga sepi, namun asyik juga buat foto, setelah itu lanjut ke pantai Kuta…jeprat jepret lagi, gonta ganti sudut pengambilan gambar akhirnya lanjut ke Desa Suku Sasak.

Note: Diketiga pantai ini banyak para penjual kain, gelang dan lain-lain yang mengikuti kita. Kalau mau dibeli silahkan, kalau gak mau beli jangan janji-janji dengan bilang ‘entar aja’, langsung saja tolak dengan pasti ‘tidak, terima kasih’. Walaupun para penjual akan keukeuh tetap menawarkan heheheheee…hebat lah…

3 sore
Sesampainya di desa Suku Sasak, begitu turun mobil, kami langsung disambut oleh seorang pemuda desa yang memperkenalkan diri dan langsung mengajak kami berkeliling desa. Ternyata pemuda ini adalah seorang tour guide yang akan menjelaskan seputar desa Suku Sasak. “Mau tau bayaran guide-nya berapa? …hmmm…hak mahal kok, cukup 15-20 rb saja”, begitu setelah saya dapat info dari pak Yusup sang driver kami.

Di desa suku sasak terdapat sekitar 150 rumah. Trus…saya lupa apa saja yang di sampaikan oleh tour guide-nya karena saya juga gak fokus, saya cuma fokus buat foto-foto….hehe..*dasar*. Yang saya inget karena cukup menarik adalah bahwa beberapa dinding rumah di suku sasak di lumuri dengan kotoran kerbau or sapi agar terhindar dari nyamuk, dan lantainya pun 2-3 kali seminggu juga di bersihkan dengan kotoran sapi yang selanjutnya di bersihkan dengan batu…hmmm buat apa lagi ya ini..??!

Akhirnya perjalanan di suku sasak pun selesai. Persiapan balik ke BIL untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.

4 sore
Kami sampai di BIL, ternyata Lion Air delay…nah lho…

6 petang
Lepas landas.

7 malam
Sampai di Jakarta….

Alhamdulillah, benar-benar perjalanan yang sangat Amazing dan tak terlupakan…

Thanks to:
-Allah SWT, yang telah memberikan rezeki, nikmat sehat, kekuatan dan cuaca yang sangat bersahabat selama kami melakukan perjalanan.
-Istri tercinta yang memberikan support dan do’a yang luar biasa sehingga terlaksananya journey ini
-Orang Tua yang selalu  memanjatkan do’a
-Mr.SM dan Mba Dewi serta anak-anaknya Mas Giga dan Adek Bimo
-Calon Dokter Dicky Stevano Zukhri, Maulana Hasyimi Hutabarat, calon politikus Diza Gambino Widjaya, Sang Impala Agung & Muhammad Fadli Arif, dan Sang Driver Mas Totok atas adventure nya di Malang-Bromo-P.Sempu
-Mas Boi Ary temen seperjuangan di Lombok
-Pacarku Canon 5D mark II, 17-40 L USM, 70-200 L IS USM, 50 mm F 1.4, speedlite 580 EX II dan BG-E6, battery cadangan powerex dan eneloop serta Lowerpro Computrekker AW tempat kediaman semuanya…dan beberapa lagi item yg gak bisa disebutkan satu persatu…
-Hush Puppies yang gak pernah menggigit kaki selama perjalanan, iPhone 4 yg full apps dan setia menjaga komunikasi dengan istri tercinta selalu terjalin, topi koboi melindungi dari terik matahari, casio protrek 500 dengan full functionnya, dan lain2 yang gak bisa disebut satu persatu…hhehe..*males mikir*
-toyota rush, tempat penyewaan tenda, penjual bensin, lion air, sriwijaya air, dll…males mikir lagi…bantuin mikir dong..? Hehe…
-pokoknya semuanya TERIMA KASIH atas lancarnya journey ini…
-Dan, tak lupa Terima Kasih atas braders yang telah membaca postingan ini, semoga bermanfaat buat kita semua. Amiinn..

Advertisements

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.